Desa Jinengdalem di Singaraja, Bali Utara, memiliki nilai historis yang terkait dengan Kerajaan Swecapura era Majapahit. Konsep dasar Jinengdalem diambil dari kata "pejenengan/nyeneng" sehingga pelafalan menjadi "Jineng" adalah tempat atau bisa disebut kekuasaan, dan "Dalem" merupakan gelar kepala penguasa atau seorang raja. Nama "Jinengdalem" berarti "tempat kekuasaan raja," atau bisa jadi sebagai tempat seorang raja dikala itu melakukan persinggahan, membuat tempat pemujaan, hingga membuat peradaban. Bukti sejarah di desa ini, seperti Pura Kawitan Siwa–Ularan, menyimpan manuskrip lontar beraksara Buda dari abad ke-18 yang mengajarkan filsafat Siwa-Buddha. Tokoh I Dewa Ularan, mahapatih Dalem Waturenggong, pernah memimpin penyerangan ke Blambangan namun diusir kembali ke Bali Utara karena ketidaksepahaman dengan sang raja. Keturunannya, termasuk Ki Barak Panji (I Gusti Anglurah Panji Sakti), mendirikan Kerajaan Buleleng di Bali Utara, dengan kekuasaan meluas hingga ke Blambangan. Jejak sejarah Jinengdalem mencakup Pura Dalem Telagasari dan Pura Dalem Sagening, sebagai penghormatan terhadap leluhur. Pura ini menyimpan pelinggih dengan simbol-simbol keluarga Arya Jelantik dan I Gusti Ularan, menandai warisan keturunan dan perjuangan mereka untuk Bali Utara.
💬 Komentar Pengunjung
202507060141448Mnsr0nQ1EJ8: mantap
21 Dec 2025 11:36