Ritual Melaib Ngemaling

Ritual Perkawinan Melaib Ngemaling atau kawin lari masih dilestarikan sebagai bagian dari tradisi Bali Aga. Meskipun terdapat berbagai jenis perkawinan seperti Melaib Mepekirang, Melaib Metegteg, dan Melaib Mebasa Tegeh, Melaib Ngemaling tetap menjadi pilihan utama. Tradisi ini pada dasarnya adalah perkawinan atas dasar suka sama suka antara pasangan yang sering kali dilakukan tanpa sepengetahuan keluarga perempuan. Meski awalnya dipahami sebagai kawin lari karena faktor ketidaksetujuan keluarga, saat ini tradisi ini lebih banyak dilaksanakan oleh pasangan yang sudah saling mencintai dan berani membentuk kehidupan rumah tangga mereka. Ritual ini, menurut Wayan Sukrata, menjadi simbol kebebasan dan kemerdekaan bagi perempuan yang memiliki keberanian menentukan pilihannya sendiri. Perkawinan Melaib Ngemaling dianggap sah di Pedawa dengan menggunakan sarana Wakul yang berisi Lateng (simbol perempuan) dan Beluluk (simbol laki-laki). Lateng, meskipun beracun, melambangkan perempuan yang memiliki sifat meneduhkan keluarga, sedangkan Beluluk yang berasal dari pohon aren mewakili laki-laki yang bekerja mencari nafkah. Tradisi ini tidak hanya simbolis dalam konteks fisik, tetapi juga dianggap penting secara niskala untuk memastikan perkawinan tersebut sah. Dulu, banyak pasangan yang tidak mengesahkan pernikahannya dengan sarana ini, yang mengakibatkan dampak spiritual negatif, seperti kesakitan yang dirasakan oleh keturunan mereka. Seiring waktu, masyarakat Pedawa tetap menjaga kepercayaan terhadap pentingnya penggunaan Wakul dan Damar dalam ritual pernikahan sebagai pengesahan yang sah secara niskala.

Ritual Melaib Ngemaling

📍 Lokasi Sejarah: Ritual Melaib Ngemaling

💬 Komentar Pengunjung
🔗 Bagikan Cerita Ini