Ngeyehin Karang

Ritual Ngeyehin Karang merupakan tradisi yang tetap lestari di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, sebagai simbol penghormatan terhadap Ibu Pertiwi dan penyelarasan kehidupan manusia dengan elemen alam. Ritual ini dilakukan di pekarangan rumah untuk menyomia Bhuta Kala, menjaga harmoni antara penghuni rumah, makhluk lain, dan kekuatan alam. Menurut Wayan Sukrata, tradisi ini bertujuan meneduhkan ibu pertiwi yang dianggap panas akibat aktivitas manusia, sehingga tanah kembali berguna sesuai perannya sebagai karang rumah. Pelaksanaannya melibatkan berbagai sarana seperti banten, bahan-bahan alami, dan air dari 11 (sebelas) sumber sakral yang dirahasiakan, yang dipimpin oleh Balian Desa. Pelaksanaan Ngeyehin Karang dilakukan pada hari-hari tertentu seperti Kajeng Kliwon atau Tilem, dan sering menjadi bagian dari upacara besar lainnya seperti pawiwahan, mlaspas, atau nyerimpen. Tradisi ini juga dapat dilaksanakan setiap satu atau dua tahun, tergantung keputusan pemilik rumah. Air dari 11 (sebelas) sumber digunakan sebagai simbol "membangunkan" ibu pertiwi dan memulihkan kesuburan tanah, sementara banten nasi bayuan melambangkan pengembalian keseimbangan alam. Dengan tradisi ini, masyarakat Pedawa terus menjaga hubungan spiritual dengan tanah dan alam sebagai bagian dari keberlanjutan kehidupan mereka.

Ngeyehin Karang

📍 Lokasi Sejarah: Ngeyehin Karang

💬 Komentar Pengunjung
🔗 Bagikan Cerita Ini