Ngerarung Bikul

Tradisi Ngusaba Ngerarung Bikul di Desa Adat Julah, Kecamatan Tejakula, dilaksanakan setiap tahun pada Sasih Kepitu sebagai upaya untuk mengantisipasi serangan tikus terhadap tanaman masyarakat. Dalam upacara ini, setiap Kepala Keluarga (KK) di desa wajib menyetorkan seekor tikus, yang bisa dalam kondisi hidup atau mati, untuk dihanyutkan ke pantai sebagai bagian dari ritual penyucian. Tikus yang dikumpulkan, baik dari rumah, kebun, atau sawah, dibawa ke Pura Bale Agung, dan jika tidak dapat ditemukan, krama dapat menggantinya dengan 11 (sebelas) uang kepeng. Setelah prosesi ibadah bersama di pura, tikus-tikus tersebut dibawa menuju pantai menggunakan jempana, diiringi dengan gong dan diikuti dengan ritual mecaru sebelum dihanyutkan ke laut. Ngusaba Ngerarung Bikul, yang dipimpin oleh Jro Kubayan Tengen, memiliki makna mendalam terkait keseimbangan ekosistem. Masyarakat Julah meyakini bahwa dengan melakukan ritual ini, tikus yang dihanyutkan akan berinkarnasi menjadi makhluk dengan derajat lebih tinggi, dan setelah ritual, mereka jarang lagi mengganggu tanaman. Tradisi ini sudah dilaksanakan secara turun-temurun dan merupakan bagian dari warisan leluhur yang mencerminkan perhatian terhadap keseimbangan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Julah. Meskipun tidak ada catatan pasti tentang kapan tradisi ini dimulai, masyarakat tetap melaksanakannya dengan penuh keyakinan setiap tahun.

Ngerarung Bikul

📍 Lokasi Sejarah: Ngerarung Bikul

💬 Komentar Pengunjung
🔗 Bagikan Cerita Ini