KISAH KI BARAK PANJI SAKTI DAN SEJARAH LAHIRNYA SINGARAJA Lahirnya Sang Cahaya: Ki Barak Panji Setelah Dalem Batur Enggong mangkat, tampuk kepemimpinan dilanjutkan oleh Dalem Bakung, meski tak lama. Dalem Segening kemudian naik tahta (1580-1605 M). Dalam masa pemerintahannya, Dalem Segening merupakan raja Kerajaan Gelgel, di Klungkung (nama wilayahnya saat ini). Dalem Segening memiliki seorang selir bernama Ni Luh Pasek yang berasal dari wilayah Bali Utara, tepatnya di daerah yang kini dikenal sebagai Buleleng. Beliau sudah mempunyai banyak istri, tetapi karena suatu kejadian kecil maka Beliau harus mengawini Ni Luh Pasek, salah seorang pelayan di istananya. Beliau sadar kalau dirinya terlalu tua untuk Ni Luh Pasek. Dia masih sangat muda dan juga cantik sehingga membuat istrinya yang lain cemburu padanya. Mengetahui kondisi seperti itu, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di dalam istana, maka Dalem Segening berkata pada Arya Jelantik, patihnya: “Paman, jasamu sangat besar padaku. Kamu selalu bakti dan sangat setia juga, maka ku hadiahkan istriku yang termuda, Ni Luh Pasek untuk jadi istrimu. Tetapi jangan sentuh dia dulu sebelum dia melahirkan bayinya!!” Arya Jelantik menjawab: “Terima kasih atas kebaikan Baginda pada hamba, Yang Mulia. Hamba akan menuruti semua titah Paduka.” Kemudian raja berkata pada Ni Luh Pasek: “Luh......kamu tahu, saya terlalu tua untukmu, mungkin.......besok saya akan mati. Jadi maafkan saya, mulai sekarang saya berikan kamu pada Paman Arya Jelantik untuk dijadikan istrinya.” Ni Luh Pasek menjawab: “Oh.....tidak......tidak......, Yang Mulia. Janganlah Baginda berkata mati!!! Baginda masih kuat dan sehat. Hamba akan laksanakan apapun titahmu. Terima kasih atas semua kebaikanmu pada hamba, Yang Mulia.” Kemudian mereka pun menikah. Suatu hari, Ni Luh Pasek melahirkan seorang anak laki-laki. Arya Jelantik berkata dengan lembut: “Sayang.....kamu anak laki-laki ajaib, ubun-ubunmu yang merah dan bercahaya serta lidahmu yang berbulu sebagai pertanda kekuatan dan kemasyuranmu kelak. Karenanya kuberi nama kamu Ki Gusti Barak Panji. Saya berjanji akan mengajar dan membimbingmu banyak ilmu nanti.” Perjalanan dan Takdir: Menuju Denbukit Beberapa tahun kemudian, Ki Barak Panji tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat dan tampan dengan banyak keahlian ilmu kanuragan dan kekuatan gaib, atas bimbingan Arya Jelantik. Mendengar itu semua, Dalem Segening berkata kepada Paman Arya Jelantik:“ Paman, aku sangat bahagia mempunyai seorang anak laki-laki seperti Ki Barak Panji. Tetapi, kekuatannya membuatku khawatir. Aku tidak mau kewibawaanku pudar olehnya. Jadi, apa kamu punya ide untuk mengusir dia dari sini?” Arya Jelantik menjawab: “Bagaimana kalau Baginda titahkan dia untuk pulang ke desa ibunya, Desa Panji di Bumi Den Bukit untuk belajar dan meningkatkan ilmu kanuragannya.” Dijawab kembali oleh Dalem Segening: “Hmmmm..........ide yang sangat bagus itu. Terimakasih paman.” Selanjutnya, Dalem Segening menitahkan Ni Luh Pasek menemani putranya pergi ke Desa Panji Den Bukit dan ditemani oleh 40 pasukannya yang gagah berani, Dalem Segening menganugerahi sebuah keris Kitarsemang, tombak Ki Tunjung Tutur, dan bendera Pangkaja Tatwa kepada Ki Barak Panji. Ketiganya adalah senjata sakti mandraguna milik Yang Mulia Dalem Segening. Akhirnya mereka berangkat ke Bumi Den Bukit. Empat hari kemudian, sampailah mereka di Batumenyan, daerah Den Bukit. Lalu mereka berhenti di sana untuk makan perbekalan berupa ketupat. Ketika sedang makan tiba-tiba Luh Pasek berteriak: “Oh........tidak.......tidak,…tolong....tolong ambilkan saya air, cepat......!!” ”oh…anakku tersedak tolong..tolong carikan air.” Salah seorang pengawal menjawab: ” Tidak ada mata air disekitar sini nyonya,” Kemudian Ni Luh Pasek melihat air yang menyebur dari tanah dan berkata: “Lihat anakku!!! Ada air menyembur dari sini. Cepat minumlah ini,.. Oh.....Hyang Widhi terima kasih, terima kasih. Engkau telah memberkati putraku.” Setelah itu Ki Barak Panji pulih kembali, maka sejak saat itu, dipusaran air itu dibuatkan sebuah pura yang diberi nama Pura Yeh Ketipat. Setelah selesai makan, mereka melanjutkan perjalanannya. Beberapa jam kemudian, tibalah mereka dipuncak bukit mengitari Danau Buyan, ketika matahari terbenam. Tiba-tiba ajaib!!!??? Tubuh Ki Barak Panji diangkat oleh seorang makhluk yang sangat tinggi dan aneh bernama Panji Landung. Lalu dia berkata: “hohoho…Lihatlah di sekelilingmu, Tuan!!! Apa yang tuan lihat?” Ki Barak Panji menjawab dengan tenang, “Saya hanya melihat bukit, pegunungan Tianyar, lautan dan pegunungan Tengger. Tapi untuk apa saya melihat itu semua?” Panji Landung menjawab: “Tuan, kelak tuan akan jadi seorang raja yang besar dan semua yang tuan lihat tadi akan jadi wilayah kekuasaan tuan nanti.” Sementara Ki Barak Panji diangkat oleh Panji Landung, Ni Luh Pasek dan semua pasukannya panik mencarinya. Lalu saat dilihat Ki Barak Panji diangkat oleh Panji Landung, dia pun berteriak sambil menangis, “Tolong, tolong, Tuan. Kembalikan putraku, jangan sakiti dia, tolong.” Panji Landung menjawab: “Jangan khawatir Nyonya, saya hanya menunjukkan sesuatu kepadanya! Sekarang pergilah ke Pantai Penimbangan. Di sana ada orang-orang yang memerlukan bantuanmu, Tuan!” Kata Panji Landung lalu menghilang. Ki Pungkan Gendis dan Pengakuan: Awal Kejayaan Di tengah perjalanannya, Ki Barak Panji membunuh Ki Pungakan Gendis, penguasa Desa Panji, dengan keris pusakanya setelah mendengar suara gaib yang memerintahkannya. Peristiwa ini menjadi awal dari pengakuan akan kesaktian Ki Barak Panji. Kejayaan Ki Barak Panji semakin bersinar ketika ia berhasil menolong menarik sebuah kapal Cina yang karam di pantai Penimbangan. Sebagai imbalan, Ki Barak Panji mendapatkan seluruh muatan kapal, yang membuatnya menjadi kaya raya. Dinobatkan Sebagai Raja: Ki Gusti Ngurah Panji Sakti Berkat kesaktian dan kedermawanannya, Ki Barak Panji semakin dicintai oleh rakyat. Pada usia 20 tahun, ia diangkat menjadi raja dengan gelar Ki Gusti Ngurah Panji. Ia kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke desa Panji. Persiapan Perang: Ambisi dan Kekuatan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti memiliki ambisi untuk memperluas wilayah kekuasaannya, terutama ke Blambangan. Ia mengumpulkan pasukan yang kuat, termasuk 800 pahlawan pilihan yang disebut "Truna Goak". Para Truna Goak ini dilatih dan dipersenjatai dengan baik. Penaklukan Blambangan: Tiga Kali Perang Ambisi Ki Gusti Ngurah Panji Sakti untuk menaklukkan Blambangan tidak berjalan mulus. Ia harus menghadapi perlawanan sengit dari kerajaan tersebut. Tercatat tiga kali peperangan besar antara Buleleng dan Blambangan: Perang Pertama (1590 M): Dengan petunjuk dari Pendita Bagawanta, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti memimpin pasukannya menyerang Blambangan. Setelah pertempuran sengit, Blambangan berhasil ditaklukkan dan Raja Blambangan, Pangeran Mas Tawang Alun, gugur. Perang Kedua (1598 M): Blambangan memberontak di bawah pimpinan putra-putra Pangeran Mas Tawang Alun. Ki Gusti Ngurah Panji Sakti kembali menyerang Blambangan, namun pasukannya mengalami kesulitan karena perlawanan yang kuat. Perang Ketiga (1600 M): Ki Gusti Ngurah Panji Sakti meminta bantuan kepada raja Mengwi dan Tabanan. Setelah melalui pertempuran yang sengit, Blambangan akhirnya berhasil dikuasai sepenuhnya oleh Buleleng. Membangun Singaraja: Ibu Kota Baru Setelah berhasil menaklukkan Blambangan dan mengamankan wilayahnya, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti memindahkan pusat pemerintahan dari Sukasada ke tempat yang baru, yang kemudian dikenal dengan nama Buleleng. Di tempat inilah kemudian dibangun ibu kota baru bernama Singaraja, yang berarti "raja yang gagah perkasa seperti singa".
💬 Komentar Pengunjung