I Jaum

Ada sebuah cerita I Jaum.. I jaum hidup dengan ibunya yang dipanggil Men Jaum. Diceritakan I Jaum berumur 10 tahun hidup dengan ibunya karena ditinggal mati oleh ayahnya. Jadi dia hanya hidup berdua dengan ibunya. Diceritakan, saat ditinggal oleh suaminya, Men Jaum, sedang hamil tua. Setelah beberapa bulan, Men Jaum merasa sakit diperut dan dia merasa akan segera melahirkan. Lalu ia minta kepada I Jaum, untuk memberitahu neneknya, untuk membantu proses kelahiran anaknya yang kedua. Dia berkata “Jaum, perut Ibu sedikit sakit, sepertinya akan segara melahirkan, Tolong kamu beritahu nenek, agar beliau membantu kelahiran adikmu” Mendengar permintaan ibunya seperti itu, I Jaum segera menjawab “ Ya Ibu.. sekarang saya berangkat” Menjelang I Jaum berangkat ibunya berpesan “ Iya kamu berangkat sekarang, nanti kalau kamu sudah sampai di simpang jalan, jangan ambil jalan kekiri, ambil jalan ke kanan. Kalau jalan ke kiri kamu akan bertemu dengan nenek Raksasa. Kalau jalan ke kanan, kamu akan sampai ke rumah nenekmu. I Jaum dengan tergesa-gesa tidak memperhatikan dengan jelas suara ibunya. Sampai di persimpangan jalan, dia memilih jalur arah ke kiri dan pastinya dia sampai ke rumah nenek Raksasa. Di sana dia temukan rumah yang kumal penuh sampah dan kotoran. J Jaum lalu memanggil “Nek… nenek dimana?” Lalu dijawab oleh nenek Raksasa dengan logat Raksasa yang tidak jelas.. ”Siapa itu, mari ke sini, nenek masih masak nasi” Lalu keluarlah nenek Raksasa dengan perawakan yang menyeramkan. Perut besar, mata melotot, dan rambut kumal yang terutai. I Jaum sangat khawatir, tetapi rasa saying pada ibunya mengalahkan ketakutannya dan berusaha tetap tegar agar sang nenek yang ditemuainya mau membantu ibunya. Lalu ia mengutarakan maksudnya “Nek, saya disuruh kemari oleh Ibu. Dia sedang sakit dan sepertinya akan melahirkan. Dia minta nenek untuk membantu proses melahirkan.” Mendengar hal itu Nenek Raksasa tertawa terkekeh-kehek.. “Hehehehe… “Iya.. ya, nanti nenek bantu,, Siapa namamu?” tanyanya I Jaum menjawab : “I Jaum Nek”. Nenek raksasa lalu berkata “Nenek masih memasak, kamu tolong masakin dulu nenek”. I jaum menjawab ” ia Nek..” lalu dia pergi ke dalam rumah, mengambil peralatan masak. “ Nek, dimana tungku dan periuknya?” “ Di Sana dah cari di dalam” “ Nek, kok seperti kepala orang periuk nenek?” “ Apa yang kamu katakan?” sahut raksasa dengan garang “ Periuk nenek bagus dan bersih” “hehehe…” “ Nek, dimana airnya ? “Di sana di gentong besar” I Jaum terkejut melihat isi gentong tersebut “Aduh nek, mengapa darah airnya Nek?” “Apa yang kamu katakan?” “Arinya bersih Nek, diama nenek ambil air?” “Di lembah, di sana ada pancoran besar” “Dimana kayu bakarnya nek?” “di sana ambil, di bawah tempat tidur” “Lho mengapa tulang belulang semua kayu bakarnya?’ “Apa yang kamu katakan?’ “Dimana nenek mencari kayu bakar nenek, kering-kering sekali? Bagus sekali Nek.” “Di dalam hutan, ada banyak sekali kayu bakar di hutan” “Dimana berasnya nek?” “Ambil di gentong kecil” “Lho mengapa ulat semua?” “Apa yang kamu katakan?” “ Beras nenek bersih, putih-putih sekali” “He..heh..heh..” Lalu I Jaum, memasak untuk nenek raksasa.. Singkat cerita. Selesai masak, I jaum pamit akan pulang ke rumahnya. “Nek, karena sudah selesai, saya pamit pulang,,” Nenek raksasa menjawab “Ya, sana kamu duluan.. Kamu ambil tebu, dan cecerkan ampasnya agar nenek tahu arah tempat tinggalmu.” Lalu I Jaum, berjalan sambil memakan tebu, tiap selesai makan ampasnya dicecerkan di jalan, sebagai penanda ke arah rumahnya. Singkat cerita, I Jaum sampai di rumahnya. Dia mendapatkan ibunya masih kesakitan. Ibunya berkata “Jaum, kok kamu alam sekali?” I Jaum menjawab sambal menyesali dan menceritakan apa yang terjadi. “Aduh, Bu.. Saya salah. Saya mengambil jalan kekiri dan bertemu dengan nenek raksasa. “Kamu tidak jelas mendengarkan apa yang ibu katakan, bukannya sudah ibu suruh untuk ambil jalan ke kanan. Sekarang kita berdua pasti celaka” “ Maafkan Jaum Bu. Saya salah, tapi Nenek raksasa masih belakangan, kita masih punya waktu untuk bersembunyi” “Iya, kalau begitu kita harus sembunyi. Ibu akan sembumyi di bawah ketungan dan kamu naik ke pohon kelapa” “ Ya bu..” lalu I jaum cepat-cepat membuatkan ibunya persembunyian dengan membalikkan ketungan. Setelah itu dia naik untuk bersembunyi di atas pohon kelapa. Segera setelah itu nenek Raksasa sampai di rumah I Jaum. Dia teriak-teriak memanggil I Jaum dan Ibunya.. “Ho,..ho..ho.. Men Jaum.. Jaum.. nenek telah datang dimana kamu? “ Lama menunggu tidak juga ada jawaban, nenek Raksasa mulai kesal dan berguman “Ntah dimana kedua orang ini, aku tunggu saja “ Lalu dia duduk di atas ketungan tempat persembunyian ibu Jaum sambil mencari kutu-kutu dirambutnya. Setiap dia dapat satu kutu langsung dimakannya. Kutu-kutu tersebut sebesar buah kolang kaling. Diceritakan satu kutune jatuhke bawah ketungan. Nenek Raksasa lalu mencari kutu tersebut dan membalikkan ketungan. Dia menemukan men Jaum sedang bersembunyi. “Ho,,ho,, ho.. ternyata disini kamu bersembumyi Men Jaum. Mari ke sini aku akan bantu kamu melahirkan. Mari mendekat..” Men Jaum menjawab sambil memnagis ketakutan “ Jangan nek.. jangan.. saya sudah tidak sakit lagi” “Jangan begitu. Mari sini,, Aku akan menolongmu melahirkan” kata nenek Raksasa seraya memaksa Men Jaum keluar. Lalu dibunuhnya Men Jaum dan dimakan sampai tidak tersisa. I Jaum menahan tangis mengetahui kejadian itu. Singkat cerita, setelah membunuh dan memakan jasad Men Jaum, nenek Raksasa masih penasaran dengan keberadaan I Jaum. Dia terus mencari dan memanggil nama I Jaum. “Jaum.. Jaum.. dimana kamu?” panggil raksasa seraya tertawa terkekeh-kekeh. I Jaum merasa sangat takut dan terus berusaha menahan tangis. Nenek raksasa masih terus penasaran dan keluar masih mencari I Jaum. Setelah mencara beberapa saat, Nenek Raksasa merasa kehausan. Kebetulan di samping rumah I Jaum ada sumur kecil dibawah pohon kelapa. Di sana Nenek Raksasa minum. Sambil minum dia heran melihat bayangan pohon kepala yang nampak lain. Nenek Raksasa bergumam “ Kalau pohon kelapa, kok ada kepala dan rambut ya?”. Lalu ia menoleh ke atas dan dilihatknya I Jaum bersembumyi di atas pohon kelapa. Nenek Raksasa tertawa girang melihat I Jaum dan menyuruhnya untuk turun. “Jaum..Jaum.. ternyata kamu bersembunyi di sana.. Sekarang cepat kamu turun” suaranya galak. Entah sudah beerapa kali nenek Raksasa menyuruh I Jaum turun, Ia tetap tidak menuruti. I Jaum tetap berpegangan erat pada pohon kelapa. Lalu sang raksasa marah dan dan mengancam I jaum akan memanggil babi piarannya untuk merobohkan pohon kelapa tersebut. “sekarang aku memanggil babi besar peliharaanku”. I Jaum makin ketakutan dan berpegangan semakin kuat. Lalu Nenek Raksasa berteriak-teriak memanggil babi piarannya yang bermana Klabang Akit. “Ciiiita …. Ciiita … Klabang Akit.. Datanglah kau sekarang, bantu aku merobohkan kelapa yang dipanjat I Jaum” Tidak lama kemudian, datanglah babi hitam dengan perawakan seram dan bercaling panjang-panjang. Babi tersebut mendengus dan berlari-lari. Melihat babinya datang, Nenek Raksasa semakin tertawa girang “ ha ha ha… sekarang kamu Jaum.. akan aku makan kamu ha ha ha…” seraya menyuruh babinya untuk merobohkan pohon kepala persembunyian I Jaum. “Klabang Akiit,,. Robohkan kelapa itu”. Lalu babi tersebut Ngelumbih (mencongkel) pohon kelapa tersebut dengan cungurnya. Segera setalah itu pohon kelapa tersebut tumbang. I Jaum melompat ke pohon kelapa sebelahnya yang lebih tinggi. Nenek Raksasa terus menyuruh babinya untuk merobohkan setiap pohon kelapam yang dipanjat oleh I Jaum. “Lumbih terus.. Lumbih terus Klabang Akit..” Setiap pohon kelapa tumbang I Jaum melompat ke pohon kelapa sebelahnya. Begitu seteruanya sampai pohon kelapa ketujuh yang merupakan pohon kelapa tertinggi. Babi itu terus mendegus dan siap merobohkan lagi pohon kelapa tersebut. Sambil ketakutan, I Jaum tiba-tiba teringat dengan pesan ayahnya sebelum meninggal. Ayahnya berpesan jika ada bahaya yang mengancam agar memanggil ketiga Anjing mereka yang sekaranga ada di Suargan . Ketiga anjing tersebut bernama I Gerangsang, I Geringsing dan I Gerembiung, yang merupakan anjing yang paling besar dan sangat kuat. Seketika itu dia memanggil anjing tersebut. “Coong.. Coong.. Gerangsang,, Gersingsing.. Gerembiung,, Datanglah sekarang, tolong aku. Aku dalam bahaya akan dimakan oleh raksasa” Seketika itu pula datanglah ketiga anjing besar tersebut, seraya berlari sambil menyalak galak. I jaum lalu menyuruh anjing-anjing tersebut untuk mebunuh raksasa dan babinya. “Gerangsang.. kamu bunuh babi itu.. Geringsing dan Gerembiung,, kamu bunuh raksasa itu” perintah I Jaum kepada ketiga anjing tersebut. Segera setelah mendengar perintah tersebut, Ketiga anjing itu mengaung dan melompat membunuh raksasa dan babinya. Singkat cerita, setelah raksasa dan babinya mati, I Jaum lalu turun menuju rumahnya. Di sana dia menangis tersedu menyesali yang telah terjadi dengan ibunya. Dia merasa sangat bersalah atas kejadianya itu yang terjadi karena kecerobohannya karena tidak jelas dalam mendengarkan perkataan ibunya. Ketiga anjing tersebut tetap setia menemani I jaum dalam kesedihan. Ada yang menjilat-jilat kakinya dan ada juga yang menggoyang-goyangkan ekor seolah ingin menenangkan I jaum. Tiba-tiba I jaum menemukan setetes darah ibunya. Lalu ia mengucap saa untuk darah inunya tersebiut. “Darah.. darah.. jadilah kamu sebesar kecipir” lalu keajaiban terjadi, darah itu membesar berbentuk kecipir. Lalu I Jaum meneruskan saa. “ Darah.. darah.. jadilah kamu sebesar kemiri” lalu darah itu membesar sebesar kemiri. “ Darah.. darah.. jadilah kamu sebesar kelapa” Lalu darah itu berubah membesar sebesar kelapa. “ Darah..darah.. jadilah kamu memiliki mata, dan mulut..” lalu jadilah darah itu sebagaimana permintaan I jaum, memiliki bentuk mata dan mulut. “ Darah..darah.. jadilah kamu sebesar bantal” jadilah darah itu menyerupai bantal. “ Darah.. darah.. jadilah kamu sebesar gulungan tikar “ jadilah darah itu seperti permintaan I Jaum. “ Darah..darah.. semoga kamu memiliki tangan dan kaki..” jadilah ada bentuk tangan dan kaki yang muncul pada bentuk yang menerupai gulungan tersebut. “Darah..darah.. semoga kamu bisa menyerupai ibuku” lalu terwujudlah sesosok tubuh seperti ibu I Jaum. “Darah..darah.. semoga engkau kembali hidup”. Lalu Men Jaum kembali hidup seperti sedia kala. I Jaum sangat haru dan sambal menagis sesenggukan memeluk ibunya yang telah hidup lagi. Ibunya berkata “ sebenarnya ada apa?” Sambil menangis I jaum menjelaskan semuanya termasuk rasa penyesalannya atas kejadian itu. “Syukur Ibu masih bisa kembali hidup. Sebanarnya Ibu sudah sempat dibunuh Raksasa. Aku yang salah bu…” ucapnya secara menangis. “Kamu juga tidak apa-apa kan? Tidak dicelakai oleh raksasa?” “Aku ditolong oleh ketiga anjing ini bu. Di saat sangat gawat aku teringat pesan ayah” “Ooo iya.. syukurnya kita masih dilindungi. Sekarang kamu buatkan ketupat untuk upah kepada ketiga anjing ini. Lalu biarkan mereka kembali ke Suargan”. Segera setelah mendengar permintaan ibunya, I Jaum membaut ketupat bekel untuk diberikan kepada ketiga anjing itu. “Nah sekarang kamu Gerangsang, Geringsing, dan Gerembiung, ini aku buatkan ketupat sebagai bekalmu kembali ke suargan” mendengar perkataan I Jaum ketiga anjing itu lalu pergi meninggalkan I Jaum dan Ibunya. I Jaum sekarang hidup dengan Ibunya dan selalu menurut perkataan ibunya.

I Jaum

📍 Lokasi Sejarah: I Jaum

💬 Komentar Pengunjung
🔗 Bagikan Cerita Ini